Konsep Tentang Allah Berbelaskasih dalam Perjanjian Lama



Konsep Tentang Allah Berbelaskasih dalam Perjanjian Lama
oleh: Ayus Ratrigis 
Dalam perjanjian lama ada tiga kata yang dipakai untuk mengungkapkan sikap Allah yang berbelas kasih itu. Hesed (Ibr = kebaikan) yang berarti kasih setia yang dilandaskan pada ikatan perjanjian  (Kej 20: 13) atau hubungan yang erat (1 Sam 20: 8.14-15). Rahimin (Ibr = rahim) yang berarti belarasa dari dalam batin, seperti kasih seorang ibu kepada anaknya     (Yes 49: 15) . Hen (Ibr = rahmat) yang mengungkapkan cara Allah memberikan rahmat secara cuma-cuma dan tidak bergantung pada jasa orang yang menerimannya (Kel 33: 12-17). Manusia mengharapkan belas kasih dan Allah berkenan memberikannya[1].  Ketiga kata ini memperlihatkan bahwa Allah yang berbelas kasih itu ialah Allah yang mau hadir dan menyapa umat-Nya secara lebih dekat. Kedekatan ini digambarkan seperti ikatan batin dan kasih yang nampak dalam hubungan seorang ibu dan anaknya. Hubungan yang dekat ini terus-menerus terjalin karena ada kasih setia Allah yang bersifat kekal atau abadi.
Paham mengenai Allah yang penuh kasih  dan setia ( Ibr. rab hesed we 'emet), mau menggambarkan bahwa Allah itu berlimpah kasih dan setia-Nya. Penggunaan kata kasih setia/hesed ini sangat banyak dipakai dalam kitab Mazmur ( Misalnya: Mzm 69:14,17; 77:9; 136:1-25). Penggunaan kata hesed selalu mengarah dari Allah kepada manusia, bukan manusia kepada Allah. Allah dengan rahmat-Nya menganugerahkan kasih setia yang ada pada-Nya kepada manusia secara cuma-cuma. Jadi, konsep Allah yang berbelas kasih di dalam Perjanjian Lama ialah sifat Allah yang penuh dengan kasih setia atau dengan kata lain belimpah kasih setia-Nya.




[1] Gerald O’ Collins dan Edward G. F, Kamus Teologi, Kanisius, Yogyakarta   1996, 41.

Komentar

Postingan Populer